Blog

  • Port USB-C iPhone 15 Mirip Lightning

    Port USB-C iPhone 15 Mirip Lightning

    LABTekno.com – Port USB-C iPhone 15 banyak dinantikan penggemar smartphone. Banyak yang penasaran, apakah Apple benar-benar akan mengganti port Lightning miliknya ke USB-C.

    Apple sepertinya ingin langsung tancap gas setelah seri iPhone 14 rilis. Kini sedang mempersiapkan iPhone 15. Beberapa perubahan penting tentu diharapkan pada seri terbarunya nanti.

    iPhone 15 diperkirakan akan hadir pada kuartal terakhir tahun ini. Menurut rumor yang beredar, seri iPhone 15 nanti akan beralih ke port koneksi USB-C. Namun perusahaan hanya akan mendukung beberapa aksesori USB-C.

    Port USB-C iPhone 15 ini merupakan dampak persyaratan untuk produk yang dijual di Uni Eropa pada tahun 2024.

    Nah, buat Anda yang penasaran dengan port charger pada iPhone 15 nanti, silakan simak beberapa penjelasan berikut:

    Apple Dikabarkan Wajibkan Sertifikasi LKM untuk Aksesori iPhone 15

    Sertifikasi MFi pada port USB-C iPhone 15
    Sertifikasi MFi untuk Port USB-C iPhone

    Desas-desus beredar bahwa iPhone 15 mendatang akan menampilkan port USB-C, menandai perubahan signifikan dari port Lightning lama yang telah digunakan Apple sejak 2012. 

    Namun, tampaknya bahkan dengan beralih ke USB-C, produsen aksesori nantinya masih perlu mendapatkan sertifikasi MFi dari Apple untuk memastikan kompatibilitas penuh dengan iPhone baru.

    MFi, singkatan dari “Made For iPhone“, adalah program sertifikasi yang harus dilalui produsen untuk memastikan bahwa aksesori mereka bekerja dengan lancar pada perangkat Apple. 

    Program ini telah ada selama bertahun-tahun dan telah membantu memastikan bahwa pengguna memiliki beragam aksesori berkualitas tinggi untuk dipilih.

    Menurut laporan terbaru, hanya aksesori bersertifikasi MFi yang akan memiliki akses penuh ke port USB-C di iPhone 15. 

    Artinya, aksesori yang belum melalui proses sertifikasi akan dibatasi dalam hal kecepatan transfer data dan pengisian daya. 

    Meskipun hal ini mungkin mengecewakan sebagian pengguna, perlu diperhatikan bahwa proses sertifikasi dirancang untuk memastikan keamanan dan keandalan aksesori pihak ketiga.

    Upaya Apple Lolos dari Regulasi USB-C

    Port USB-C iPhone 15
    Port USB-C iPhone 15

    Perlu dicatat bahwa biaya sertifikasi MFi kemungkinan besar akan diteruskan ke pengguna akhir, yang berarti aksesori bersertifikat mungkin lebih mahal daripada alternatif yang tidak bersertifikat. 

    Tapi jika dibandingkan dengan aksesori bermerek Apple sendiri, beberapa aksesori bersertifikasi MFi mungkin masih lebih murah.

    Dari perspektif lingkungan, perlunya sertifikasi MFi dapat dilihat sebagai perkembangan negatif, karena dapat membuat pengguna enggan menggunakan kembali atau menggunakan kembali aksesori lama. 

    Dalih bahwa proses sertifikasi membantu memastikan aksesori memenuhi standar tinggi Apple untuk keselamatan dan kinerja, yang sangat penting untuk melindungi umur panjang iPhone nampaknya tak lebih hanya sebatas upaya Apple untuk menjaga ekslusifitas produknya.

    Bukan hanya port USB-C iPhone 15 saja yang menarik, seri iPhone generasi berikutnya juga dikabarkan akan menampilkan serangkaian fitur dan peningkatan baru lainnya. 

    Termasuk Dynamic Island dan tombol solid-state pada keempat model, serta chip A17 baru pada dua model Pro. 

    Melihat langkah Apple yang demikian agresif menjaga eksklusifitasnya, regulasi Uni Eropa nampaknya bisa dengan mudah diakali oleh Apple agar tetap mendapatkan keuntungan besar.

    Jika memang serius dengan aturan USB-C, kiranya perlu ditambahkan beberapa poin yang mengikat agar perusahaan seperti Apple tidak mempermainkannya.

  • Realme C55 Resmi Debut di Indonesia 7 Maret, Tawarkan Fitur Dynamic Island

    Realme C55 Resmi Debut di Indonesia 7 Maret, Tawarkan Fitur Dynamic Island

    LABTekno.com – Realme C55 resmi debut di Indonesia beberapa hari lagi. Smartphone terbaru dari Realme ini, akan segera hadir di Indonesia pada 7 Maret 2023. 

    Beberapa waktu lalu, kami sempat membahas mengenai fitur Mini Capsule atau replika Dynamic Island yang akan disematkan pada ponsel terbaru Realme.

    Setelah banyak rumor yang membahas tentang fitur Mini Capsule pada seri C55 tersebut, akhirnya kabar baik berhembus juga.

    Realme C55 Indonesia, Debut 7 Maret

    Realme C55 Indonesia
    Realme C55 Indonesia | Sumber: Realme

    Hari ini, brand Realme akhirnya mengumumkan bahwa pihaknya akan mengadakan acara peluncuran di Indonesia pada hari Selasa (7 Maret) pukul 13.00 WIB untuk mengungkap Realme C55.

    Nah, untuk harga Realme C55 di Indonesia, nantinya juga akan diungkap pada acara peluncuran tersebut.

    Pada hari berikutnya, tanggal 8 Maret pukul 12.00 WIB, Realme Indonesia juga akan mengadakan flash sale untuk Realme C55.

    Detail Spesifikasi

    Realme C55 Full Set
    Tampilan Belakang Realme C55 & Dusbook

    Smartphone terbarunya akan menampilkan RAM LPDDR4X 6GB yang dipasangkan dengan penyimpanan eMMC 128GB atau RAM LPDDR4X 8GB dan penyimpanan eMMC 256GB. 

    Dalam video unboxing yang bocor juga mengungkapkan bahwa perangkat ini akan menggunakan prosesor MediaTek Helio G88 di bawah kapnya dan terdapat port USB-C pada pengisian daya serta dukungan transfer data USB 2.0 di bagian bawah dengan jack audio 3,5mm dan kisi-kisi speaker.

    Realme juga telah membagikan beberapa fitur unggulan yang dinanti-nantikan di Realme C55, yang mencakup pengaturan kamera ganda dengan sensor utama 64 MP. 

    Di bagian depan, akan ada kamera 8MP untuk selfie dan panggilan video. 

    Untuk pasokan dayanya, akan ditenagai baterai besar 5000 mAh dengan dukungan pengisian cepat SuperVOOC 33W dan dukungan untuk NFC.

    Perangkat ini diharapkan akan berjalan pada realme UI 4.0 terbaru Realme berbasis Android 13.

    Tampilan Depan dan Belakang Realme C55
    Tampilan Depan dan Belakang | Sumber: Realme

    Desain Tampilan

    Lebih lanjut dalam pengumumannya, Realme membagikan bahwa smartphone tersebut akan tersedia dalam dua pilihan warna yang disebut merek tersebut: Sunshower dan Rainy Night dengan desain ramping setipis 7,89 mm.

    Pada bagian tampilannya, smartphone ini akan menggunakan bahan polikarbonat pada bagian belakangnya dengan sisi datar. 

    Hadir juga pemindai sidik jari yang disematkan pada bagian sampingnya dan layar LCD dengan resolusi FHD+ 90Hz dengan lubang-lubang tengah di bagian depan.

    Perbedaan Mini Capsule dan Dynamic Island

    Mini Capsule Realme C55
    Mini Capsule Realme C55

    Dilihat dari segi manapun, Mini Capsule tentu akan dicap sebagai replika Dynamic Island milik iPhone 14 Pro. Menariknya, fitur Mini Capsule justru hadir pada perangkat entry-level Realme, bukan kelas flagshipnya.

    Hal ini tentu menjadi alternatif paling dinantikan oleh sejumlah pengguna. Sebab mereka tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menjajal fitur Dynamic Island. Fitur kloningan “Mini Capsule” dari Realme saja sudah cukup.

    Sebelum resmi menamai Mini Capsule, Realme sebenarnya memiliki konsep Dream Island yang terinspirasi fitur Dynamic Island.

    Fitur tersebut mempunyai software khusus pada bagian atas layarnya yang mampu terintegrasi dengan sistem notifikasi maupun pengaturan kamera pada area tersebut.

    Tersedia juga pintasan untuk berbagai fungsi, termasuk indikator pengisian daya. Berdasarkan gambar yang beredar, ponsel ini juga akan dilengkapi dengan pengisian daya SuperVOOC yang diklaim cukup kencang.

    Jika ditanya perbedaannya dengan Dynamic Island, tentu masih terlalu dini menanyakan fungsi dan kemampuan lain yang akan ditawarkan oleh fitur Realme Mini Capsule ini.

    Kemungkinan, fitur ini bisa dimanfaatkan sebagai pintasan seperti panggilan masuk, peringatan, notifikasi, dan hal-hal semacam itu.

    Yang jelas, fitur ini nantinya akan memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pengguna dalam mengakses berbagai fitur penting pada ponsel.

    Nah, bagi Anda yang penasaran dengan desain Realme C55 yang memiliki kemiripan yang mencolok dengan fitur Dynamic Island Apple iPhone 14 Pro, maka tunggulah beberapa hari lagi. Tidak perlu mengeluarkan uang belasan juta hanya untuk mencobanya. Dynamic Island versi Realme C55 bisa dijadikan solusi untuk keterbatasan budget Anda. 

  • Perbedaan Layar AMOLED vs Super AMOLED

    Perbedaan Layar AMOLED vs Super AMOLED

    LABTekno.com – Layar AMOLED vs Super AMOLED, mana yang lebih baik? Kedua jenis layar premium ini biasanya memang digunakan untuk HP menengah ke atas. 

    Ketika hendak memilih sebuah smartphone, bagian layar biasanya menjadi salah satu faktor utama yang harus dipertimbangkan jika ingin mendapatkan pengalaman terbaik. Entah itu untuk berselancar di sosial media, menonton film, hingga bermain game. 

    Kalian mungkin bertanya-tanya mana yang lebih baik antara keduanya. Tenang saja, pada artikel kali ini kami akan membahas khusus mengenai perbedaan layar AMOLED vs Super AMOLED.

    Apa itu Layar AMOLED dan Super AMOLED?

    Sebelum membahas layar AMOLED vs Super AMOLED, perlu diketahui terlebih dahulu, apa maksud keduanya.

    Bagi yang belum tahu, AMOLED merupakan singkatan dari Active Matrix Organic Light Emitting Diode

    Hasil pengembangan dari layar OLED inilah yang disebut AMOLED. Layar yang terdiri dari satu set lapisan film tipis senyawa organik penghasil daya elektroluminesen dan matriks modulasi piksel.

    Layar AMOLED mengonsumsi lebih sedikit daya dibandingkan layar LCD biasa. Sekaligus juga mampu memberikan kualitas gambar yang lebih jelas, dan menghasilkan respons gerakan yang lebih cepat dibandingkan dengan teknologi layar lainnya.

    Nah, sedangkan layar Super AMOLED tingkat lebih lanjutnya lagi dari layar AMOLED.

    Layar AMOLED vs Super AMOLED

    Seperti yang telah dijelaskan di atas, layar AMOLED adalah layar OLED menggunakan kabel matriks aktif yang terdiri dari dioda pemancar cahaya individual. 

    Dioda tersebut membutuhkan sumber daya untuk bekerja. Sedangkan kabel matriks aktif digunakan untuk memberi daya pada layar.

    Secara tampilan, layar Super AMOLED menggunakan versi layar AMOLED yang lebih canggih dan sanggup mengintegrasikan sensor sentuh serta layar dalam satu lapisan.

    Jika dibandingkan dengan layar LCD IPS normal, layar AMOLED mengkonsumsi lebih sedikit daya dan memberikan gambar terbaik.

    Layar Super AMOLED juga mengkonsumsi daya 20% lebih sedikit lebih baik daripada layar AMOLED. Serta mampu menghasilkan tampilan 20% lebih terang. 

    Tidak hanya itu, layar jenis ini juga mampu mengurangi pantulan sinar matahari hingga 80%.

    Sayangnya, di lain sisi, biaya produksi layar Super AMOLED memerlukan biaya yang lebih besar. Oleh sebab itu, jangan heran jika teknologi layar Super AMOLED selalu hadir di smartphone premium.

    Demikian tadi perbedaan layar AMOLED vs Super AMOLED secara singkat. Meski layar Super AMOLED memiliki kualitas yang lebih baik daripada AMOLED, namun biasanya harga smartphone yang menggunakan layar jenis ini juga lebih mahal.

    Jika kebutuhan Anda tidak terlalu bergantung pada kualitas layar, maka layar AMOLED saja sudah lebih dari cukup untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

  • Teknologi Baru Xiaomi HyperCharge 300 W, 5 Menit Full

    Teknologi Baru Xiaomi HyperCharge 300 W, 5 Menit Full

    LABTekno.com – HyperCharge 300 W sudah diperkenalkan ke publik. Hal ini bersumber dari salah satu postingan di Weibo yang memamerkan demo pengisian daya Redmi Note 12 Pro+ HyperCharge 300 W. 

    Teknologi pengisian daya pada smartphone belakang ini berkembang semakin pesat. Berbagai produsen berlomba untuk menciptakan dan menyematkan teknologi pengecasan cepat tersebut pada smartphone mereka.

    Teknologi HyperCharge 300 W, Isi Daya Full Cuma 5 Menit

    Rekor Baru Pengisian Cepat HyperCharge 300 W
    Rekor Baru Pengisian Cepat HyperCharge 300 W

    Kali ini Xiaomi melanjutkan balapannya dengan Realme untuk menciptakan teknologi pengisian daya smartphone tercepat. 

    Kedua perusahaan tersebut sebelumnya telah memecahkan 200 W. Nah sekarang ini, Xiaomi mengklaim bahwa versi baru HyperCharge sudah mencapai 300 W.

    Pengujian HyperCharge 300 W, 5 Menit Full
    Pengujian HyperCharge 300 W, 5 Menit Full

    Pada pengujian menunjukkan bahwa teknologi HyperCharge 300 W baru ini mampu mengisi daya baterai dengan kapasitas 4.100 mAh dari 0-100% hanya dalam waktu 5 menit saja.

    Pengisian daya baterai dari 0-2 menit sudah bisa mencapai 50%. 

    Teknologi versi terbaru dari HyperCharge tersebut telah didemonstrasikan Xiaomi dan sudah diambil alih oleh rekan-rekannya di Grup BBK.

    Smartphone Mana yang Pertama Kali Menawarkan HyperCharge 300 W?

    Saat ini Xiaomi masih terus menawarkan teknologi HyperCharge 120 W di smartphone-nya. Pada smartphone terbarunya yang terakhir, yaitu Redmi Note 12 Pro Discovery Edition menawarkan pengisian cepat 210 W.

    Anak perusahaan BBK Group seperti Realme telah melangkah lebih jauh, dengan pengisian cepat 240 W diaktifkan di GT 3 dan GT Neo5. 

    Realme GT3 dengan 240 W SUPERVOOC Charge
    Realme GT3 dengan 240 W SUPERVOOC Charge

    Sebagai referensi, Realme akan meluncurkan yang pertama selama MWC 2023.

    Tak mau kalah, Xiaomi kini telah menghadirkan solusi pengisian daya yang lebih cepat dalam prototipe Redmi Note 12 Pro Plus berkat peningkatan ‘HyperCharge‘. 

    Seperti yang ditunjukkan oleh gambar di atas, Xiaomi mengiklankan teknologi pengisian daya barunya yang mampu mencapai 300 W. 

    Namun, teknologi HyperCharge tersebut dalam pengujian terkontrolnya tidak pernah mencapai 300 W, meskipun sudah mendekati angka tersebut. 

    Beberapa kali secara singkat memang sudah mencapai lebih dari 290 W, dan mempertahankan lebih dari 280 W hingga smartphone mencapai daya sekitar 64%. Namun  setelah itu, turun drastis ke pengisian akhir 65 W.

    Secara keseluruhan, tetap saja hasil ini dinilai cukup memuaskan. Kurva pengisian daya yang dihasilkan mengisi penuh baterai 4.100 mAh hanya dalam waktu 5 menit. 

    Rekor tersebut terpecahkan sebagai pengisian daya tercepat saat ini. 

    Xiaomi menambahkan catu daya HyperCharge 300 W-nya sebesar yang digunakan dalam demo HyperCharge 210 W. Meskipun demikian, dayanya sudah meningkat 43%. 

    Sayangnya, masih harus dilihat kapan Xiaomi akan menawarkan solusi HyperCharge barunya di perangkat terbarunya nanti yang akan dijual ke konsumen. 

    Jika nantinya akan digunakan Redmi Note 12 Pro Discovery Edition, maka kemungkinan akan jadi produk eksklusif di China pada peluncuran awalnya.

    Teknologi pengisian kabel yang semakin cepat ini memang menarik perhatian konsumen. Mengingat kemunculan pengisian nirkabel yang jauh lebih lambat sekarang ini.

    Di samping itu, yang perlu diperhatikan adalah dampak negatif dari teknologi HyperCharge 300 W tersebut. Terutama terhadap kesehatan baterai dan siklus pengisian daya jangka panjang. Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar!

  • 3 Teknologi Smartphone 5 Tahun Mendatang

    3 Teknologi Smartphone 5 Tahun Mendatang

    LABTekno.com – Satu dekade ini, smartphone telah menjadi bagian terpenting dari kehidupan kita. Semakin hari, teknologi yang disematkan juga terus berkembang. Dalam lima tahun mendatang, diharapkan akan memiliki beberapa terobosan besar yang bisa mengubah cara penggunaan dan berinteraksi dengan perangkat tersebut.

    Berikut ini 3 teknologi smartphone teratas yang akan merevolusi ponsel pintar tersebut dalam waktu dekat:

    Konektivitas Satelit

    Teknologi smartphone yang akan mentransformasi kebiasaan pengguna yang pertama adalah konektivitas satelit. Mari kita bayangkan, jika bisa mengirim dan menerima pesan dari mana saja di Bumi tanpa jaringan seluler.

    Nah, inilah yang ditawarkan oleh konektivitas satelit. Sekarang ini beberapa produsen smartphone seperti Samsung, Apple dan Huawei sudah memperkenalkan perangkat yang bisa terhubung ke satelit untuk keperluan darurat.

    Namun juga beberapa melangkah lebih jauh dan mengaktifkan pesan SMS dua arah. Sehingga memungkinkan penggunanya tetap berhubungan satu sama lain, mengakses informasi penting, dan mendapatkan bantuan saat dibutuhkan, kapanpun dan dimanapun kalian berada.

    Jaringan satelit bertujuan untuk mengisi kekosongan jangkauan seluler dan menawarkan cara andal berkomunikasi di daerah terpencil. 

    Fitur semacam ini, sangat dibutuhkan di daerah kepulauan seperti di Indonesia, karena di beberapa wilayah memang belum tercover jaringan seluler. 

    Hadirnya smartphone yang mendukung jaringan satelit, pengguna bisa tetap berkomunikasi saat mendaki, mengemudi di pelosok desa, di atas kapal, atau dalam situasi lain yang nyata tak memiliki konektivitas. 

    Jadi tenang saja, fitur ini juga memudahkan penggunanya untuk meminta bantuan dalam situasi darurat.

    Saat ini, dua produsen chipset terbesar, Qualcomm dan MediaTek sudah mengumumkan fitur tersebut. Tunggu saja, dalam beberapa tahun ke depan kemungkinan semua smartphone akan memiliki fitur ini. 

    Baterai Solid State

    Teknologi smartphone di masa depan lainnya adalah baterai Solid State. Seperti yang diketahui bahwa tantangan terbesar pengguna smartphone adalah masa pakai baterai.

    Kita harus sering mengisi baterai smartphone ketika kehabisan daya. Oleh sebab itu, baterai Solid State menjadi salah satu upaya yang menarik sebagai solusi masalah tersebut.

    Berbeda dari baterai lithium-ion konvensional yang menggunakan larutan elektrolit cair, baterai solid state menggunakan elektrolit padat. 

    Artinya baterai ini mampu mengemas lebih banyak energi dalam ruang yang lebih sedikit. Sehingga bisa menghasilkan masa pakai baterai yang lebih lama dan waktu pengisian yang lebih cepat. 

    Dilihat dari segi keamanannya, baterai solid state juga lebih aman dan lebih stabil daripada baterai lithium-ion, sekaligus juga mampu mengurangi risiko panas berlebih atau meledak.

    Tampilan Fleksibel

    Teknologi smartphone 5 tahun mendatang kemungkinan juga akan memiliki tampilan yang fleksibel. Kalian bisa bebas melipat, membengkokkan atau memutar layar smartphone tanpa merusaknya.

    Tampilan OLED digunakan untuk membuat layar fleksibel yang dapat beradaptasi dengan berbagai bentuk dan ukuran. 

    Smartphone dengan tampilan fleksibel dapat berubah dari ponsel cerdas ringkas menjadi tablet yang lebih besar, sehingga dapat memberi Anda lebih banyak keserbagunaan dan fungsionalitas. 

    Hal ini juga berimplikasi pada daya tahan yang lebih baik, bobot yang lebih ringan, dan lebih banyak opsi multitugas dengan ponsel fleksibel.

    Demikian 3 teknologi smartphone 5 tahun mendatang yang akan menjadi tren. Jika ketiga teknologi tersebut benar-benar diterapkan, maka smartphone yang akan datang lebih powerful. Jadi semakin tidak sabar menantikan perkembangan teknologi masa mendatang!

  • YouTube 1080p Premium, Hadirkan Bitrate Lebih Tinggi

    YouTube 1080p Premium, Hadirkan Bitrate Lebih Tinggi

    LABTekno.com – YouTube 1080p Premium merupakan eksperimen baru dari CEO YouTube yang baru-baru ini naik. 

    Opsi streaming YouTube dengan bitrate yang lebih tinggi ini memang sejalan dengan menawarkan kualitas video yang lebih tinggi pula. 

    Nah, jika ingin mengaksesnya resolusi YouTube 1080p Premium ini, maka perlu membayarnya terlebih dahulu. 

    YouTube telah mengkonfirmasi eksperimen tersebut. Kabar baiknya, YouTube sejauh ini belum ada rencana untuk menghapus opsi menonton yang biasa disediakan untuk pengguna gratis.

    Opsi Premium 1080p sepertinya memberikan bitrate yang ditingkatkan untuk resolusi Full HD. Seperti yang diketahui dengan baik oleh penggemar video, bitrate yang lebih tinggi (atau “ditingkatkan”) berarti lebih banyak bit yang dialirkan ke pemutar, memberikan pengalaman video berkualitas lebih tinggi menggunakan teknologi codec yang sama.

    Perlu diketahui, bahwa kecepatan bit sebenarnya hanyalah salah satu variabel dalam persamaan kompleks untuk video internet. Masih ada beberapa variabel lain seperti resolusi, kedalaman warna, dan kualitas keseluruhan video asli yang turut berperan dalam pengalaman menonton. 

    Selain itu, jika diperhatikan saat video diunggah ke YouTube, kualitasnya biasanya turun meskipun ada upaya terbaik untuk menggunakan bitrate setinggi mungkin selama fase pengeditan video.

    Perbedaan Kualitas Video YouTube 1080p Premium dengan 1080p Standar

    Perbedaan paling signifikan pada fitur YouTube 1080p Premium dengan versi standar, salah satu contohnya adalah fitur Blu-ray 1080p yang mampu memberi kecepatan maksimum 40 Mbps dan menampilkan gambar yang cukup tajam. 

    Sementara itu, pada bitrate 1080p standar, hanya berkisar 8 hingga 10 Mbps saja. Meski sudah cukup baik, namun jika dibandingkan versi premiumnya, akan terasa juga perbedaannya.

    Hal tersebut juga tergantung pada penggunaan codec yang digunakan saat video dikompresi. Sebab, beberapa codec biasanya lebih efisien daripada yang lain dan dapat menampilkan hasil yang lebih baik dengan lebih sedikit data.

    Nah, YouTube biasanya menggunakan pengkodean bitrate variabel, jumlah data yang digunakan akan sedikit naik-turun tergantung yang ditampilkan di layar.

    Fitur ini pernah dicoba oleh seorang pengguna Reddit denganmemposting tangkapan layar alat “Stats for Nerds” YouTube. Hasilnya menunjukkan opsi 1080p Premium berjalan sekitar 13 Mbps, sedangkan mode standarnya untuk video yang sama, berjalan 8 Mbps. 

    Alasan YouTube Tidak Menampilkan File Video Asli

    Jika ditanya alasan YouTube tidak menampilkan file video asli pada bitrate maksimumnya, jawabannya sederhana. 

    Hal tersebut tentu akan mengeluarkan lebih banyak biaya, baik dari segi YouTube sendiri maupun untuk pengguna–tergantung kecepatan dan batas data.

    Seperti yang telah disebutkan di atas, semakin rendah bitrate video, maka semakin rendah kualitas videonya. Walhasil, semakin sedikit pula bandwidth yang dibutuhkan dalam perjalanan dari server YouTube ke layar pengguna. 

    Nah, tujuan eksperimen YouTube 1080p Premium ini, secara tidak langsung menunjukkan bahwa pihaknya mungkin bersedia membiarkan orang mengakses lebih banyak kualitas selama penggunanya membayar untuk layanan tersebut.

    YouTube 1080p Premium

    Juru bicara YouTube, Paul Pennington, mengatakan bahwa opsi streaming 1080p baru saat ini tersedia untuk “pelanggan YouTube Premium kalangan terbatas.” 

    Kecepatan bit yang ditingkatkan tersebut merupakan upaya untuk memberikan lebih banyak informasi per piksel yang menghasilkan “pengalaman menonton berkualitas lebih tinggi”.

    Lebih lanjut, Paul Pennington juga menegaskan bahwa opsi baru tidak memengaruhi kualitas video 1080p yang sudah ada bagi untuk pengguna gratis. 

    Kecepatan bit standar YouTube untuk video Full HD dapat berkisar antara 8 dan 10 megabit per detik, yang mengakibatkan penurunan kualitas video yang mencolok dibandingkan dengan rilis video rumahan 1080p pada disk Blu-ray yang bisa mencapai 40 Mbps.

    Selain itu, YouTube baru-baru ini juga menjalankan eksperimen lain dengan kualitas video dengan menyembunyikan resolusi 4K/Ultra HD di balik paywall Premium. 

    Hal ini tentu disesalkan oleh komunitas pengguna yang merasa kehilangan sesuatu yang selama ini bisa mereka akses secara gratis bertahun-tahun.

    Tapi tenang saja, YouTube 1080p Premium akan tetap menyediakan opsi tontonan tambahan tanpa paywall untuk pengalaman gratis.