Kawoong Inovasi Sisipkan Seni ke Teknologi, Kuatkan Ide Prabowo dalam STEM

Rate this post

Visi Besar Presiden Prabowo Subianto: Membangun Kedaulatan Bangsa Melalui STEAM

Presiden Prabowo Subianto memiliki visi besar untuk membangun kedaulatan bangsa Indonesia, khususnya melalui penguatan sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Dalam beberapa dekade terakhir, dunia pendidikan dan industri memang tengah fokus pada konsep ini. Namun, di ambang tahun 2045, yang dikenal sebagai Indonesia Emas, ternyata hanya mengandalkan rumus matematika dan barisan kode komputer saja tidak cukup.

Teknologi bukanlah benda mati yang berdiri sendiri. Hal ini sejalan dengan pemikiran CEO Kawoong Innovation Hadi Wardoyo, yang menekankan pentingnya menggabungkan teknologi dengan sentuhan kemanusiaan. Menurutnya, modernisasi tidak boleh mencabut akar budaya bangsa. Ia menyampaikan bahwa tanpa integrasi seni dan budaya, kemajuan teknologi hanya akan menciptakan masyarakat yang mekanis dan kaku seperti “mesin yang dingin”.

“Presiden mendorong inovasi yang tetap menghargai nilai-nilai estetika dan kearifan lokal,” kata Hadi dalam keterangan tertulis. “Untuk mendukung hal ini, maka dunia membutuhkan STEAM, sebuah evolusi pola pikir yang menyisipkan art (seni/humaniora) ke dalam inti teknologi.”

Teknologi yang Memiliki Ruh dan Sentuhan Kemanusiaan

Hadi menjelaskan bahwa fokus pada STEM bukan berarti mengesampingkan humaniora. Justru, kolaborasi antara kecanggihan ilmu pasti dan kelembutan seni akan melahirkan inovator yang solutif bagi masalah sosial di Indonesia.

“Gagasan ekosistem STEM yang inklusif ini adalah upaya nyata untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal di era digital. Dengan memadukan efisiensi mesin dan kehangatan seni, Indonesia sedang bergerak menuju bangsa yang maju secara intelektual namun tetap kaya secara emosional,” paparnya.

Ia mengibaratkan inovasi tanpa sentuhan manusia hanyalah deru mesin. “Maka STEM adalah jembatan menuju Indonesia yang cerdas sekaligus beradab,” ucap Hadi Wardoyo.

Bukan Sekadar Estetika, Tapi Kemanusiaan

Hadi menekankan bahwa transisi dari STEM ke STEAM bukan sekadar penambahan satu huruf, melainkan evolusi pola pikir. Elemen “art” (seni) yang diperjuangkan oleh Hadi Wardoyo menjadi kepingan yang sangat vital. Ia melihat bahwa fokus utama STEM yang murni teknis seringkali menghasilkan produk yang fungsional namun cenderung kaku.

“Seni dalam STEAM hadir untuk memanusiakan teknologi (Humanizing Technology). Tanpa sentuhan seni, teknologi hanyalah mesin yang dingin,” terang Hadi. Ia mengibaratkan pepatah Latin, Ars longa, vita brevis—seni itu abadi, hidup itu singkat. Kalimat ini bermakna bahwa keahlian ilmu pengetahuan dan karya seni yang diciptakan manusia akan bertahan lama, jauh melampaui umur pembuatnya yang terbatas.

QR Art: Contoh Nyata Penerapan STEAM

Salah satu bukti paling nyata dari penerapan STEAM di Kawoong Innovation adalah lahirnya QR Art, sebuah temuan revolusioner karya anak bangsa dari tangan dingin Doddy Hernanto, atau yang akrab disapa Mr D, salah satu pendiri Kawoong Innovation. Sebelum sentuhan STEAM hadir, QR Code hanyalah kotak-kotak hitam-putih yang membosankan—sebuah produk murni Engineering dan Mathematics yang fungsional namun “bisu” secara visual.

“Melalui pendekatan STEAM, Mr D melahirkan Codeisme, sebuah kolaborasi apik antara seni dan teknologi,” ujarnya. STEAM membuktikan bahwa algoritma (Math/Tech) bisa berdampingan mesra dengan lukisan, foto, dan estetika tanpa merusak fungsi teknis keterbacaannya. Inilah bukti nyata bahwa engineering dan art harus berjalan beriringan.

“Sains membuktikan apa yang ada, tetapi Seni membayangkan apa yang mungkin ada,” jelasnya.

Menuju Indonesia Emas 2045

Gagasan STEAM ini disebut sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita, khususnya penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kedaulatan sains-teknologi. Presiden sering menekankan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi “bangsa pesuruh” atau pasar bagi teknologi asing.

“Kita harus menguasai teknologi untuk mencapai swasembada pangan, energi, dan air dengan karakter bangsa,” ucap Hadi. Langkah ini semakin diperkuat oleh perspektif pakar ilmu kognitif, Prof. Stella Christie (Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), yang menekankan bahwa teknologi harus selaras dengan cara kerja otak manusia.

“Inovasi yang berkelanjutan lahir dari kolaborasi interdisipliner, di mana seni menjadi jembatan antara mesin dan rasa,” kata Hadi Wardoyo. Begitu pula, sambung Hadi, hal ini sejalan dengan visi Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria, yang disampaikan dalam Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026–2030 di Gedung B.J. Habibie baru-baru ini mengenai ekosistem riset yang agile.

“STEAM menciptakan talenta yang fleksibel—individu yang mampu melihat peluang di luar batasan teknis tradisional,” ujar Hadi. Hadi sebagai pemimpin di Kawoong Innovation meyakini bahwa STEAM adalah kunci masa depan.

“Sains dan teknologi adalah alatnya, engineering dan matematika adalah metodenya, namun Art (seni) adalah bahasanya,” ucapnya. “Tanpa ‘A’, kita hanya akan menjadi robot yang memprogram robot lain. Namun dengan ‘A’, kita sedang membangun peradaban,” sambung Hadi.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi dapat terus solid. Menjadikan STEAM sebagai fondasi untuk mencetak generasi Indonesia Emas 2045 yang tidak hanya mahir mengoperasikan algoritma, tetapi juga piawai merajut estetika.


Terimakasih sudah membaca artikel seputar teknologi terbaru di LABTekno.com. Untuk mendapatkan artikel dengan cepat, silahkan ikuti kami di Google News.
Author Image

Author

Mufid

Blogger dan Tech Enthusiast sejak tahun 2008. Saat ini sedang fokus di Digital Agency dan juga Jasa Pembuatan Website.

Leave a Comment