LABTekno.com – Memiliki laptop dua layar bagi seorang profesional dapat meningkatkan potensi produktivitas dan kreativitas pengguna.
Apakah kalian pernah membayangkan memiliki dua layar dalam satu laptop?
Sekarang, sudah banyak produsen laptop yang menawarkan dual screen, sehingga tidak perlu layar tambahan untuk multitasking tanpa beralih antar aplikasi atau tab.
Inovasi laptop dua layar saat ini semakin menarik, bahkan nantinya dapat mengubah cara kerja penggunanya menjadi lebih produktif dalam berkreasi.
Berikut ini beberapa rekomendasi laptop dua layar terbaik yang perlu dipertimbangkan. Simak sampai tuntas!
ASUS Zenbook Duo (UX8406) – Laptop Dua Layar Penuh
Rekomendasi laptop dua layar yang pertama yaitu Zenbook Duo (UX8406). Model terbaru dari ASUS yang memiliki layar kedua dengan format penuh.
Sebelumnya, ASUS memang telah mengeluarkan lini laptop dual screen. Namun formatnya masih berbagi area dengan keyboard dan touchpad.
Bagi pengguna yang membutuhkan dua layar untuk memudahkan multitasking, Zenbook Duo menjadi pilihan yang tepat.
Dua layar Zenbook Duo menampilkan layar OLED dengan resolusi 3K (2880×1800) dan tingkat penyegaran 120Hz. Saat disatukan, kedua layar 13 inci ini memiliki dimensi total 19,8 inci.
Kedua layar pada Zenbook Duo (UX8406) dilengkapi dengan fitur layar sentuh dan dapat menggunakan stylus Asus Pen 2.0 yang sudah termasuk dalam paket penjualannya.
Laptop ini hadir sebagai versi laptop Intel® Evo™ yang ditenagai oleh prosesor Intel® Core™ Ultra 7 155H.
Kelebihan lainnya, laptop ini dilengkapi dengan chip Intel® AI Boost NPU yang menjadikannya sebagai laptop berbasis kecerdasan buatan (AI-powered).
Selain itu, prosesor Intel® Core™ Ultra 7 155H dilengkapi dengan chip grafis Intel® Arc™ yang mampu memberikan performa dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan chip grafis terintegrasi pada prosesor Intel® generasi sebelumnya.
Chip grafis Intel® Arc™ juga telah mendukung berbagai teknologi grafis modern, seperti real-time ray tracing, Xᵉ Super Sampling, hingga DX 12 Ultimate dan Advanced Media Engine.
Intel® Arc™ pada Zenbook Duo (UX8406) tidak hanya mampu mempercepat pemrosesan grafis, tetapi juga encoding video yang sangat vital bagi para konten kreator.
Kemudian pada bagian memori, laptop ini dilengkapi dengan penyimpanan SSD M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 sebesar 1TB dan RAM LPDDR5 sebesar 16GB.
Sisi paling menarik dari laptop ini adalah fleksibilitasnya. Laptop ini memiliki berat 1,35 kilogram dan ketebalan 14,6 milimeter, sehingga mudah dibawa bekerja kemanapun.
Setidaknya ada lima skenario penggunaan yang dapat dipilih, termasuk Mode Laptop, Mode Laptop+Keyboard Virtual, Mode Layar Ganda+Keyboard, Mode Desktop, dan Mode Berbagi.
Meskipun desainnya kompak, laptop ini telah dilengkapi dengan berbagai port I/O modern, seperti dua port Thunderbolt 4, USB 3.2 Gen 1 Type-A, HDMI 2.1, dan jack audio 3,5 mm. Laptop dengan dua layar ini dijual dengan harga Rp33,999 juta.
Dilengkapi dengan chip grafis NVIDIA GeForce RTX 4050, memberikan kinerja grafis yang lebih baik. Cocok digunakan oleh profesional dalam bidang video editing, animasi, dan desain 3D.
Layar ASUS Lumina OLED Zenbook Pro 14 Duo OLED memiliki resolusi 2,8K dan refresh rate 120Hz.
Dilengkapi dengan beragam fitur, teknologi, dan inovasi canggih. Dilengkapi juga dengan ScreenPad Plus yang mendukung ASUS Pen 2.0.
ScreenPad Plus pada Zenbook Pro 14 Duo OLED telah ditingkatkan dengan fitur ScreenXpert. Sehingga memungkinkan pengguna untuk mengelola aplikasi dengan mudah, bahkan tanpa mouse atau touchpad.
Laptop dua layar ini dibanderol dengan harga Rp36,999 juta.
Lenovo Yoga 9i
Lenovo Yoga 9i hadir dengan desain comfort edge yang membuatnya nyaman digenggam. Desain ini tidak hanya membuatnya terlihat stylish tetapi juga memberikan pengalaman pengguna yang ergonomis.
Ditenagai oleh prosesor Intel Core i7 – 1360P Generasi ke-13, Lenovo Yoga 9i menawarkan performa yang impresif.
Prosesor ini memungkinkan laptop ini untuk berjalan lancar dalam berbagai tugas, mulai dari multitasking hingga pengeditan video tanpa hambatan.
Dengan begitu, pengguna dapat bekerja dengan efisien tanpa harus khawatir tentang kinerja yang lambat.
Lenovo Yoga 9i sudah mengadopsi standar platform Intel Evo, yang berarti laptop ini telah diuji untuk memberikan pengalaman premium kepada penggunanya.
Sehingga pengguna dapat menikmati multitasking secara kreatif tanpa khawatir tentang responsivitas yang mengecewakan atau masa pakai baterai yang pendek.
Salah satu hal yang membuat pengalaman menonton atau mendengarkan menjadi lebih baik adalah kualitas suara yang memukau. Lenovo Yoga 9i Gen 8 menawarkan penggunaan Dolby Atmos pada soundbar yang dapat berputar 360°.
Oleh sebab itu, pengguna dapat merasakan suara yang mengelilingi ruangan, memberikan pengalaman mendengarkan yang lebih imersif. Bagi pecinta film atau musik, fitur ini pastinya menjadi nilai tambah yang besar.
Lenovo Yoga 9i tidak hanya unggul dalam hal performa dan suara, tetapi juga menawarkan tampilan yang luar biasa.
Resolusi yang ditampilkan hingga 4K pada layar OLED PureSight dan dukungan Dolby Vision, pengguna dapat menikmati gambar yang jernih dan tajam dengan warna yang hidup.
Hal ini membuat pengalaman menonton film atau video menjadi lebih memikat dan memuaskan.
Lenovo Yoga 9i dibanderol dengan harga Rp34,999 juta.
HP Omen X 2S
Rekomendasi laptop dua layar terbaik berikutnya adalah HP Omen X 2S. Dalam menyusul langkah-langkah yang diambil oleh ASUS dengan ZenBook Pro Duo, HP memperkenalkan layar tambahan di antara keyboard dan layar utama.
Layar utama ini memiliki dimensi 15,6 inci dengan resolusi FHD, refresh rate sebesar 240Hz, dan didukung oleh teknologi NVIDIA G-Sync.
Sementara layar tambahan yang ditanamkan hanya berukuran 5,98 inci dengan resolusi yang sama, yaitu FHD.
Sebagai sebuah laptop gaming, Omen X 2S menampilkan spesifikasi yang tangguh. Prosesor Intel Core i7 generasi ke-9 menjadi jantung utamanya, didukung oleh kartu grafis NVIDIA seri RTX, RAM hingga 16GB DDR4, dan penyimpanan SSD hingga 1TB.
Laptop dua layar ini dibanderol dengan harga Rp66,3 juta.
Lenovo ThinkBook Plus Twist
https://youtu.be/9rx6B07BglU
Rekomendasi laptop dua layar yang terakhir, yaitu Lenovo ThinkBook Plus Twist. Dibandingkan dengan laptop dua layar lainnya, ThinkBook Plus Twist ini sangat unik. Sebab memiliki layar e-Ink yang dapat memudahkan pengguna melakukan berbagai hal.
Pengguna untuk membuat draf, mengedit, dan mengoreksi dokumen menggunakan keyboard atau pena.
Selain itu, layar e-Ink ini juga dapat mengurangi ketegangan mata akibat penggunaan dalam waktu yang lama dan juga menggunakan daya yang lebih kecil, yang berarti waktu ketahanan daya yang lebih lama.
Laptop ini bisa digunakan untuk dalam mode yang dapat dikonfigurasikan ke dalam format clamshell atau format tablet.
Dalam segi performa, Lenovo ThinkBook Plus Twist telah ditenagai prosesor Intel Raptor Lake U15 dengan pilihan Intel Core i5 atau intel Core i7, RAM LPDDRX 16 GB, dan storage SSD 512 GB/1 TB.
Lenovo ThinkBook Plus Twist dibanderol dengan harga Rp30,999 juta.
Demikian beberapa rekomendasi laptop dua layar terbaik yang bisa kami rekomendasikan.
Memiliki perangkat pendukung yang sesuai kebutuhan, tentu saja menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas pengguna.
Oleh sebab itu, silakan pertimbangkan beberapa laptop di atas. Laptop mana yang akan menjadi pilihan kalian?
LABTekno.com – Inspect adalah pemeriksaan, pengawasan, dan peninjauan yang berkonotasi dengan kegiatan kunjungan dan penilaian.
Nah, itu pengertian inspect secara umum. Lalu dalam ranah browser atau pengembangan website, inspect adalah?
Pengertian Inspect Adalah
Bagi seorang website developer, istilah yang sering dijumpai mengenai inspect adalah fitur inspect element pada browser.
Fitur ini dapat memudahkan pengembangan suatu website untuk mengubah dan mengedit isi website.
Namun diingat bahwa pengeditan ini berlaku personal saja, hanya terjadi di peramban browser saja tanpa mempengaruhi halaman website aslinya.
Fungsi Inspect Element
Inspect element memiliki beberapa manfaat dan fungsi yang berguna ketika digunakan. Berikut beberapa di antaranya yang dapat saya simpulkan:
Eksperimen CSS dan HTML
Inspect element dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk bereksperimen dengan kode CSS dan HTML. Ketika kita ingin mencoba-coba mengubah atau mengganti kode yang sudah ada tanpa takut membuat kesalahan pada struktur kode yang sudah ada, Inspect element bisa menjadi solusi yang tepat.
Uji Kecepatan Website
Dengan Inspect element, kita dapat melakukan uji kecepatan sebuah website. Fitur network dapat digunakan untuk melakukan uji kecepatan ini dengan mudah.
Debugging JavaScript
Banyak orang yang merasa sulit mempelajari JavaScript karena terkadang tidak mengetahui keberadaan error dalam kode. Dengan Inspect element, kita dapat memanfaatkan fitur Console untuk melakukan debugging pada JavaScript.
Mengambil Screenshoot
Di browser Firefox, terdapat fitur untuk mengambil tangkapan layar (screenshot) dari sebuah web. Caranya cukup mudah, yaitu dengan mengklik kanan pada elemen yang ingin diambil tangkapan layarnya, kemudian memilih opsi Screenshot Node.
Mengetahui Jenis Font Website
Pernahkah kita tertarik dengan jenis font yang digunakan oleh sebuah website? Dengan Inspect element, kita dapat mengetahui jenis font yang digunakan oleh website tersebut. Caranya adalah dengan membuka Inspect Element, lalu memasukkan kode tertentu pada filter Font-family.
Cara Membuka Inspect Element pada Browser
Setelah mengetahui pengertian inspect adalah, dan fungsinya, mari kita lanjutkan dengan caranya. Berikut ini cara membuka inspect element pada browser dengan mudah:
Misalnya ketika ingin membuka website LABTekno.com
Lalu melakukan inspect element dengan menekan klik kanan
Pilih opsi inspect element.
Bisa juga dengan menekan tombol F12 pada keyboard untuk memunculkan inspect element.
Maka akan muncul struktur kode pada website.
Nah, di sini kalian bisa mengedit atau mengubah isi struktur kode pada website tersebut. Namun perubahan ini hanya terjadi di browser itu saja, tidak terjadi di halaman aslinya.
Kesimpulan
Dengan menggunakan Inspect element, kita dapat melihat struktur kode yang ada pada halaman website.
Biasanya, fitur ini digunakan untuk mencari dan memperbaiki kode yang rusak, atau bahkan untuk meniru tampilan halaman website tertentu.
LABTekno.com – Cara menyetem gitar menggunakan aplikasi Pro Guitar Tuner perlu diketahui bagi para pemula agar bisa menyetem gitar meskipun buta nada.
Dalam dunia musik, menyetem gitar merupakan salah satu aktivitas wajib sebelum memainkannya.
Keakuratan penyeteman secara langsung mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan, sehingga sangat penting bagi gitaris pemula maupun yang sudah berpengalaman untuk menguasai keterampilan mendasar ini.
Berikut ini akan dijelaskan cara menyetem gitar menggunakan aplikasi Pro Guitar Tuner agar kualitas nada yang dihasilkan gitar kalian tepat dan sempurna.
Apa itu Penyeteman Gitar?
Penyeteman gitar mengacu pada proses menyesuaikan nada setiap senar agar sesuai dengan nada tertentu. Penyeteman standar untuk gitar enam senar biasanya melibatkan penyeteman senar ke E-A-D-G-B-E dari rendah ke tinggi.
Penyeteman yang akurat memastikan bahwa gitar Anda menghasilkan suara yang harmonis dan beresonansi, sehingga meningkatkan kualitas permainan Anda secara keseluruhan.
Hal ini memungkinkan formasi akor yang tepat, memfasilitasi transisi yang mulus di antara nada-nada, dan meningkatkan pengalaman mendengarkan bagi musisi dan penonton.
Fitur Aplikasi Pro Guitar Tuner
Saat ini meskipun Anda masih pemula atau bahkan buta nada sekalipun, sudah ada aplikasi yang dapat membantu menyesuaikannya.
Salah satunya adalah aplikasi Pro Guitar Tuner. Ada beberapa fitur dan manfaat yang bisa diperoleh menggunakan aplikasi Pro Guitar Tuner, antara lain:
Penyetelan Presisi
Pro Guitar Tuner menawarkan akurasi penyeteman yang tak tertandingi, memanfaatkan algoritma canggih untuk mendeteksi penyimpangan nada sekecil apa pun.
Ketepatan ini memastikan kualitas suara yang optimal dan meminimalkan risiko ketidaksesuaian selama bermain.
Antarmuka yang Mudah Digunakan
Didesain dengan mempertimbangkan kesederhanaan, aplikasi Pro Guitar Tuner menawarkan antarmuka yang intuitif yang melayani musisi dari semua tingkat keahlian.
Desainnya yang ramah pengguna menyederhanakan proses penyeteman, memungkinkan navigasi yang mudah dan pengoperasian yang mulus.
Keserbagunaan
Baik Anda menyetem gitar akustik, elektrik, atau bass, Pro Guitar Tuner mengakomodasi berbagai macam instrumen, menjadikannya pendamping serbaguna bagi musisi lintas genre dan preferensi.
Feedback Instan
Aplikasi ini memberikan feedback atau umpan balik secara real time saat Anda menyesuaikan setiap senar, menampilkan indikator visual yang tepat untuk memandu penggunanya menuju penyeteman yang sempurna.
Umpan balik instan ini menumbuhkan lingkungan belajar yang dinamis, memungkinkan peningkatan dan penyempurnaan keterampilan menyetem Anda secara terus menerus.
Cara Menyetem Gitar Menggunakan Aplikasi Pro Guitar Tuner
Berikut ini cara menyetem gitar menggunakan aplikasi Pro Guitar Tuner:
Unduh dan Instal Aplikasi Pro Guitar Tuner
Mulailah dengan mengunduh aplikasi Pro Guitar Tuner dari App Store atau Google Play Store, tergantung pada sistem operasi perangkat Anda. Setelah terinstal, luncurkan aplikasi untuk mengakses rangkaian fitur lengkapnya.
Pilih Instrumen
Setelah meluncurkan aplikasi, Anda akan diminta untuk memilih jenis instrumen Anda. Pilih ‘Gitar’ dari daftar pilihan untuk memulai proses penyeteman yang disesuaikan secara khusus untuk gitaris.
Pilih Mode Penyetelan
Pro Guitar Tuner menawarkan beberapa mode penyeteman untuk mengakomodasi preferensi penyeteman dan gaya bermain yang berbeda.
Pilih mode penyeteman yang diinginkan berdasarkan kebutuhan musik Anda, baik itu penyetelan standar, penyetelan alternatif, atau konfigurasi khusus.
Menyetel Setiap Senar
Lanjutkan menyetem setiap senar gitar Anda, mulai dari senar terendah (senar ke-6) dan lanjutkan ke senar tertinggi (senar ke-1).
Petik setiap senar dengan kuat dan sesuaikan pasak penyeteman hingga aplikasi menunjukkan bahwa senar telah selaras.
Sempurnakan dan Verifikasi
Setelah menyetem setiap senar, lakukan penyeteman akhir untuk memastikan akurasi yang optimal.
Mainkan beberapa akor atau nada untuk memverifikasi penyeteman dan lakukan penyesuaian yang diperlukan hingga Anda mencapai keselarasan yang sempurna.
Simpan Pengaturan Anda
Setelah Anda menyelesaikan proses penyetelan, pertimbangkan untuk menyimpan pengaturan Anda atau membuat preset khusus untuk penggunaan di masa mendatang.
Hal ini memungkinkan penyeteman yang cepat dan nyaman kapan pun Anda mengambil gitar, menghemat waktu dan tenaga dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Demikian cara menyetem gitar menggunakan aplikasi Pro Guitar Tuner dengan mudah. Menguasai seni penyeteman gitar sangat penting bagi setiap gitaris yang berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam keahlian mereka.
Dengan aplikasi Pro Guitar Tuner sebagai pendamping tepercaya, Anda mendapatkan akses ke presisi dengan sempurna, antarmuka yang mudah digunakan, dan umpan balik instan, yang meningkatkan pengalaman menyetem Anda ke tingkat yang lebih tinggi.
Jadi jangan ragu untuk memanfaatkan kemudahan yang ada dengan aplikasi Pro Guitar Tuner dan buktikan potensi penuh kehebatan musik yang kalian miliki.
LABTekno.com – Apakah Quest 3, dengan harga yang lebih murah, dapat melakukan banyak tugas yang ditangani oleh Vision Pro?
Beberapa waktu yang lalu, Mark Zuckerberg, CEO Meta, mengejutkan banyak orang dengan memuji Quest 3 daripada Vision Pro.
Zuck bahkan mengklaim bahwa Quest 3 “lebih baik untuk sebagian besar hal yang dilakukan orang dalam mixed reality.”
Mengingat investasi besar Meta di Reality Labs, yang bertanggung jawab atas penelitian, pengembangan, penjualan, dan pemasaran headset Quest, dukungan Zuckerberg memicu kontroversi.
Namun Quest 3 mungkin memang menawarkan fitur yang kompetitif, perbandingannya dapat berubah seiring dengan perkembangan kedua produk.
Vision Pro vs Meta Quest 3: Harga dan nilai
Mari kita mulai dengan keunggulan yang jelas bagi Quest 3, yaitu tentu saja dalam segi harga.
Harganya mulai dari $500, sedangkan Vision Pro mulai dari $3.500. Jelas yang satu dapat dijangkau oleh jutaan pelanggan potensial dan yang lainnya adalah barang mewah.
Tapi ini lebih dari sekadar headset. Aksesori Quest 3 memiliki harga yang jauh lebih terjangkau. Tas jinjingnya seharga $70, sementara tas “wrinkled marshmallow” dari Apple seharga $199.
Tali kaku yang telah diupgrade seharga $70, tali Apple masing-masing seharga $99 (meskipun sudah termasuk keduanya).
Sisipan lensa resep untuk Quest 3 dijual oleh Zenni dan harganya $50, setengah dari harga pembaca Zeiss untuk Vision Pro dan sepertiga dari harga lensa resep.
Namun, banyak orang tidak akan membutuhkannya, karena Anda dapat menyesuaikan gasket wajah menjadi sedikit lebih dalam dan memakai Quest 3 tepat di atas sebagian besar kacamata biasa.
Meskipun Quest 3 juga terasa lebih murah dengan konstruksi plastik dan jahitan yang lebih besar dan semacamnya, Quest 3 adalah pemenang yang jelas di sini. Vision Pro terlalu jauh dari jangkauan banyak orang, tidak peduli seberapa bagusnya.
Pemenang: Meta Quest 3
Vision Pro vs Meta Quest 3: Kenyamanan
Banyak yang telah dikatakan tentang berat Vision Pro, yang pada 600-650g (tergantung pada tali) adalah sekitar 20 persen lebih berat dari Quest 3.
Tapi ini lebih dari sekadar berat, ini adalah bagaimana duduk di kepala Anda. Quest 3 memiliki tali pengikat dan keseimbangan berat yang lebih baik, dan Anda dapat membeli Elite Strap seharga $70 yang memberikan bagian belakang yang kaku dan bagus.
Hasilnya, beratnya berada di sekitar dan di atas kepala Anda, dan headset itu sendiri hampir tidak perlu menekan wajah Anda-cukup untuk mencegah cahaya.
Vision Pro membawa hampir semua bobotnya jauh di depan, dan membutuhkan banyak tekanan pada wajah untuk menjaganya tetap di tempatnya saat Anda bergerak. Bahkan dengan Dual Loop band, yang membantu menumpukan sebagian beratnya di atas kepala Anda, tetap saja terlalu banyak tekanan yang diperlukan.
Namun, ada hal lain yang lebih nyaman daripada headset di kepala Anda. Meskipun Quest 3 memenangkan pertarungan tersebut, Vision Pro adalah pengalaman yang lebih nyaman dalam hal lain.
Misalnya, meskipun Quest 3 melakukan pelacakan tangan, antarmuka tidak dapat diandalkan tanpa kontroler-metode input utamanya. Mengambil kontroler setiap kali Anda ingin melakukan sesuatu akan membuat frustasi, terutama jika Anda mencoba melakukan pekerjaan dengan tampilan virtual dan keyboard.
Saya juga dikejutkan oleh betapa seringnya kipas Quest 3 berputar hingga tingkat yang sangat terdengar. Anda tidak menyadarinya dalam pengalaman VR penuh dengan banyak musik dan efek suara, tetapi terlalu banyak aktivitas sehari-hari yang diiringi dengan musik latar yang whrrr…. Saya belum pernah mendengar penggemar Vision Pro, tetapi pembongkaran mengungkapkan bahwa ada dua di antaranya.
Terlebih lagi, video pass-through Quest 3 sangat berbintik-bintik dan lebih terdistorsi daripada Vision Pro. Apple melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menghilangkan distorsi pada video pass-through agar sesuai dengan perspektif penglihatan alami Anda, yang membuatnya lebih nyaman untuk dilihat dalam waktu yang lama.
Untuk hal-hal yang berkaitan dengan augmented reality, lebih mudah untuk melihat dunia dalam waktu yang lama melalui Vision Pro.
Quest 3 masih merupakan headset yang lebih nyaman, sebagian karena band Apple yang lebih rendah dan ketergantungan yang berlebihan pada logam dan plastik, tetapi tidak sejauh yang dibayangkan.
Pemenang: Meta Quest 3
Vision Pro vs Meta Quest 3: Antarmuka dan kegunaan
Dalam segi antarmuka dan kegunaan, Vision Pro lebih unggul daripada Quest 3. Sederhananya, menggunakan Vision Pro lebih mudah. Antarmukanya, yang sepenuhnya mengandalkan pelacakan mata dan tangan, lebih bersih dan lebih intuitif.
Ada banyak kekurangan (Anda tidak dapat membuat jendela mengikuti Anda, pemberitahuan perlu diperbaiki, ada terlalu banyak aplikasi yang hilang atau kurang matang, Tampilan Utama yang jelek), tetapi tindakan sederhana untuk memanipulasi lingkungan virtual Anda bersih dan jelas.
Quest 3 dibangun dengan menggunakan pengontrol, dan meskipun pengontrol memiliki banyak nilai untuk beberapa hal, memanipulasi antarmuka inti dengan apa yang terasa seperti sepasang penunjuk laser tampaknya lebih seperti “eksperimen VR” daripada produk yang dipoles.
Ada terlalu banyak ikon yang terlalu kecil, tidak jelas bagaimana cara mengubah ukurannya atau kapan Anda tidak bisa, dan dalam mode augmented reality Anda dibatasi untuk menjalankan tiga aplikasi 2D sekaligus. Apple juga melakukan pekerjaan yang lebih baik dengan pengaturan aksesibilitas.
Tiga aplikasi dengan penempatan terbatas dan kontrol seperti penunjuk laser bukanlah antarmuka yang bagus.
Seluruh antarmuka Quest terasa rumit dan rewel, dengan ide dan konvensi yang kacau. Beberapa hal berupa ikon, yang lainnya hampir seperti “umpan” web. Tombol-tombol memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda. Beberapa target antarmuka terlalu kecil.
Antarmuka Vision Pro mungkin tampak terbatas jika dibandingkan, tetapi jelas dan konsisten dan hanya membutuhkan beberapa menit untuk mempelajarinya. Anda bisa menggunakan Quest 3 selama berhari-hari dan Anda masih bisa menemukan cara kerjanya.
Saya tidak bisa membayangkan memberikannya kepada seseorang yang tidak terlalu paham secara teknis dan meminta mereka untuk mencari tahu cara menemukan, mengunduh, dan meluncurkan aplikasi tertentu.
Pemenang: Apple Vision Pro
Vision Pro vs Meta Quest 3: Produktivitas
Jika boleh jujur, kedua headset ini tidak terlalu mahir dalam menyelesaikan pekerjaan yang sesungguhnya. Keduanya mendukung desktop virtual, meskipun Vision Pro membuatnya lebih mudah untuk terhubung ke Mac, dan Universal Control memudahkan Anda untuk memindahkan keyboard dan trackpad Mac Anda-tetapi bukan mouse-dari desktop Mac ke aplikasi Vision Pro lainnya. (Dengan perangkat lunak yang tepat, kedua headset ini dapat digunakan pada Mac dan PC).
Resolusi dan ketepatan tampilan Vision Pro menjadikannya cara yang lebih efektif untuk bekerja dengan teks pada tampilan komputer virtual daripada di Quest 3. Tetapi sebenarnya untuk saat ini, masih lebih baik melihat monitor sungguhan daripada bekerja dengan cara ini dengan perangkat manapun.
Kemampuan untuk menempatkan beberapa jendela secara bebas adalah kekuatannya, tetapi tanpa Mac, Anda tidak akan menjadi sangat produktif secara umum.
Aplikasi yang dibuat untuk perangkat itu sendiri tidak lebih baik dari apapun yang terdapat di laptop atau desktop.
Semua aplikasi ini memiliki keterbatasan yang signifikan, begitu juga dengan kemampuan Anda untuk mengakses dan bekerja dengan file. Lingkungan aplikasi yang lebih terbuka pada Mac, dan Finder, jauh lebih baik untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya.
Resolusi dan kemampuan untuk menjalankan dan mengatur ulang banyak aplikasi datar dengan mudah membuat Vision Pro menjadi pemenang di sini, dan semua sinkronisasi awan otomatis untuk pesan dan foto serta sejenisnya bagi mereka yang menggunakan produk Apple lainnya sangat membantu.
Tetapi Anda tidak akan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah atau lebih cepat dengan salah satu perangkat dibandingkan dengan headset. Membeli monitor kedua adalah dorongan produktivitas yang lebih besar bagi kebanyakan orang.
Berkat ketepatan tampilan yang lebih baik, multitasking, dan antarmuka bebas pengontrol yang lebih mudah dan lebih intuitif, Vision Pro berpotensi menjadi alat produktivitas yang jauh lebih baik. Hanya saja, aplikasinya belum ada.
Pemenang: Apple Vision Pro
Vision Pro vs Meta Quest 3: Hiburan
Saat ini, menonton film dan video mungkin merupakan kasus penggunaan yang paling halus dan matang untuk Vision Pro.
Baik dalam bentuk datar, 3D, maupun spasial, pengalaman menonton video di Vision Pro sungguh luar biasa. Sebagian besar berkat tampilan HDR yang fantastis, tetapi lingkungan spasial yang hebat dari aplikasi seperti Disney+ juga membantu.
Bermain game adalah masalah lain. Beberapa game iPad tersedia, tetapi kecuali Anda dapat memainkannya dengan pengontrol Xbox atau Playstation, Anda tidak akan pernah bisa mengendalikannya. Hampir tidak ada game spasial.
Game VR penuh, terutama judul-judul besar AAA, hampir tidak ada. Dan tanpa dukungan untuk pengontrol pelacakan tangan, sulit untuk membayangkan bagaimana ini akan menjadi perangkat yang hebat untuk game imersif yang benar-benar berkualitas tinggi.
Ketika pengalaman bermain game terbaik Anda adalah pembaruan untuk game iPhone berusia 14 tahun, Anda memiliki masalah.
Quest 3 tidak menyajikan video dengan ketepatan yang sama seperti Vision Pro, tetapi Anda memiliki lebih banyak pilihan.
Ada lebih banyak aplikasi streaming, Anda bisa melihat video VR di web (Vision Pro belum bisa), dan ada banyak aplikasi yang melakukan pekerjaan yang sangat baik untuk streaming VR atau video datar dari berbagi jaringan lokal dan sejenisnya. Headset Apple jauh tertinggal dalam hal ini.
Gamingnya kuat, dengan banyak game VR berkualitas termasuk judul-judul besar AAA. Asgard’s Wrath 2 bahkan dibundel dengan semua headset Quest 3 saat ini, dan membuat game Vision Pro mana pun merasa malu dengan kedalaman dan kualitasnya.
Memainkan game PC VR dari PC Windows juga cukup mudah, cukup dengan menggunakan koneksi nirkabel atau kabel penghubung yang terjangkau. Anda dapat memainkan game Steam VR atau game di pasar PC lainnya, dan mereka membuat game Vision Pro terlihat seperti mainan konyol.
Vision Pro menawarkan pengalaman menonton video yang lebih baik dari beberapa aplikasi yang didukungnya, tetapi tidak memiliki dukungan untuk menonton video dengan cara lain sehingga pilihan kontennya terlalu terbatas. Dan situasi permainannya menggelikan.
Streaming game Xbox sangat bagus di Quest 3, dan tidak akan hadir di Vision Pro dalam waktu dekat.
Pemenang: Meta Quest 3
Vision Pro vs Meta Quest 3: Berbagi secara sosial
Jika ada kekurangan dari Vision Pro, itu adalah fakta bahwa ia adalah perangkat yang sangat soliter. Di luar panggilan FaceTime yang menempatkan Persona Anda di jendela mengambang (atau rapat Zoom atau sejenisnya), tidak ada cara untuk melakukan “hal-hal spasial” bersama orang lain.
Anda tidak bisa menonton film bersama di bioskop virtual yang sama. Anda tidak dapat memiliki dua orang di ruangan yang sama, keduanya mengenakan headset Vision Pro, melihat objek virtual yang sama dan berinteraksi dengannya bersama-sama. Tidak ada game multipemain daring yang memungkinkan Anda melihat orang lain, atau avatarnya.
Bandingkan dengan pendekatan Meta, yang memprioritaskan game multipemain dari masa-masa awal Oculus Rift ketika headset harus ditambatkan ke PC gaming yang kuat.
Menggunakan Meta Quest 3 penuh dengan pengalaman multi-pengguna, mulai dari VR Chat hingga game multipemain dan tentu saja Horizon Worlds, dan seluruh “metaverse” tempat orang-orang membuat avatar dan berjalan-jalan untuk bermain game, menonton TV, dan melakukan berbagai macam hal bersama.
Horizon Worlds, dengan segala kekurangannya, adalah contoh yang bagus tentang bagaimana Meta sosial menginginkan realitas campuran.
Tidak mengherankan jika perusahaan yang bisnis utamanya adalah media sosial memandang koneksi dan kolaborasi antar pengguna sebagai prinsip utama, dan Vision Pro tidak akan pernah diluncurkan dengan sesuatu yang mendekati “metaverse.”
Apple mungkin tidak akan pernah membuatnya, dan itu adalah tugas yang terlalu besar bagi pengembang pihak ketiga untuk menyediakannya dalam waktu dekat.
Tetapi sangat mengecewakan bahwa begitu banyak tugas inti dengan Vision Pro yang sepenuhnya berdiri sendiri.
Ada peluang besar yang terlewatkan untuk telepresence dalam segala hal, mulai dari bekerja, menonton TV atau film, menonton olahraga, dan tentu saja bermain game.
Meta tidak hanya menang secara default di sini, Apple seperti mencetak gol bunuh diri.
Pemenang: Meta Quest 3
Vision Pro vs Meta Quest 3: Ekosistem
Anda akan berpikir bahwa ini adalah sebuah kemenangan besar bagi Apple, karena dengan sekali masuk, semua Pesan, Foto, Mail, dan hal lainnya akan tersinkronisasi dengan baik dengan Mac atau iPhone.
Membuat tampilan virtual Mac semudah melirik ke MacBook dan memilih tombol Connect. Dan tentu saja, ada perpustakaan film dan acara Apple TV+ yang layak yang difilmkan untuk Vision Pro dengan Apple Immersive Video.
Namun ada celah besar. Aplikasi ini tidak benar-benar berfungsi dengan iPhone atau Apple Watch-Anda tidak dapat melihat layar iPhone atau iPad seperti halnya Mac.
Anda tidak mendapatkan notifikasi ketika ada panggilan masuk. Anda tidak dapat melakukan AirPlay konten video dari perangkat Apple Anda yang lain ke layar VR di Vision Pro.
Bahkan ketika membuat tampilan Mac virtual, audio masih berasal dari Mac Anda, bukan dari Vision Pro.
Dan hanya ada sedikit cara untuk membuatnya bekerja dengan hal lain. Aplikasi pihak ketiga yang memungkinkan Anda memutar file video atau audio di jaringan lokal Anda tampaknya tidak dapat melakukan streaming.
Tidak ada cara untuk menyambungkan apapun ke Vision Pro. Anda jelas tidak dapat melakukan sideload aplikasi, atau menginstal aplikasi dari web atau pasar lain seperti yang dapat dilakukan pada Mac.
Menghubungkan Quest 3 ke hal-hal lain adalah hal yang sepele, dan membuka sejumlah kemampuan yang tidak dapat ditandingi oleh Vision Pro.
Quest 3 tidak memiliki ekosistem holistik dari foto dan pesan Anda dan semacamnya yang tersedia dengan cepat dan mulus sejak Anda masuk.
Tetapi, aplikasi ini bisa digunakan untuk banyak hal. Anda bisa menyambungkan penyimpanan eksternal, menautkan ke PC, sideload aplikasi, menjalankan game dan aplikasi VR dari PC Windows, dan tentu saja menautkan semua jenis pengontrol dan perangkat bluetooth (lebih banyak daripada Vision Pro).
Meskipun Vision Pro memiliki ekosistem yang jauh lebih mudah, namun hanya dengan produk Apple lainnya dan itu pun terasa tidak lengkap. Ekosistem Quest 3 sangat luas dan bermain cukup baik dengan yang lain, tetapi seringkali membutuhkan banyak mengutak-atik untuk mempelajari cara mengkonfigurasi sesuatu atau menyiapkannya.
Pemenang: Meta Quest 3
Kesimpulan: Meta Quest 3 Lebih Baik dalam Beberapa Poin
Percaya atau tidak, Zuck benar. Dia mengatakan bahwa Quest 3 lebih baik untuk sebagian besar hal yang digunakan orang untuk menggunakan mixed reality. Dan memang benar.
Kebanyakan orang, secara umum, tidak terlalu jauh masuk ke dalam ekosistem Apple di mana itu adalah satu-satunya hal yang penting.
Mereka tidak akan mendapatkan banyak manfaat dari Pesan atau Foto yang disinkronkan dengan cloud yang sangat sederhana. Mereka lebih cenderung ingin melakukan panggilan video WhatsApp daripada melakukan FaceTime dengan seseorang.
Dan saat ini, sebagian besar orang menggunakan mixed reality untuk hiburan dan pengalaman sosial multi-pemain dan multi-pengguna.
Menonton video VR dan video datar, bermain game, dan mungkin beberapa hal yang berhubungan dengan kebugaran di rumah.
Kualitas menonton video di Vision Pro sangat bagus tetapi pilihannya terlalu terbatas, dan sebagai perangkat game atau kebugaran, ini sama sekali bukan pemula.
Apa yang dilewatkan oleh Zuck, atau setidaknya memilih untuk mengabaikannya, adalah bahwa dia membandingkan perangkat terbaru dalam platform yang sudah berumur bertahun-tahun dengan perangkat pertama dalam platform yang berumur kurang dari sebulan.
Salah satu alasan mengapa Quest 3 bagus dalam hal “apa yang digunakan orang untuk menggunakan mixed reality” adalah karena Quest 3 telah menjadi pemimpin pasar yang tak terbantahkan selama bertahun-tahun.
Hal ini terpenuhi dengan sendirinya: Headset mereka hebat dalam melakukan apa yang digunakan orang untuk menggunakan headset mereka.
Apple tidak akan mengejar ketinggalannya dalam waktu dekat, dan dengan tidak adanya sarana untuk menyambungkan apapun ke dalam Vision Pro, prospek ekosistem yang lebih luas menjadi terbatas.
Tetapi dengan beberapa pembaruan perangkat lunak yang bagus, beberapa pembaruan aplikasi yang signifikan, dan aplikasi baru, Vision Pro dapat membuat lompatan besar ke depan. Dan ada peluang nyata dalam menciptakan pengalaman baru yang tidak mereka dapatkan di headset Quest saat ini.
Masalah utama Vision Pro adalah bahwa ia belum matang, bukan karena sifatnya yang “tertutup” vs sifat Quest 3 yang lebih “terbuka” yang digembar-gemborkan oleh Zuckerberg.
Apple sedang berlomba untuk melakukan peningkatan besar pada tingkat platform, mendorong pembaruan aplikasi utama, dan mendorong minat pengembang lebih cepat daripada Meta yang dapat merilis perangkat lunak dengan antarmuka yang baik dan headset dengan tampilan dan pelacakan mata yang lebih baik.
Jika Anda membeli headset hari ini, untuk melakukan apa yang digunakan orang saat ini (hiburan, kebugaran, dan bersosialisasi), Quest 3 jelas merupakan produk yang lebih baik.
Produktivitas Vision Pro yang superior tidak memberikan keuntungan, karena sejujurnya kedua perangkat ini merupakan alat produktivitas yang buruk dalam banyak situasi.
Namun, sampai kapan Quest 3 akan tetap menjadi headset yang lebih baik? Itu tergantung pada Apple.
LABTekno.com – Cara memperbarui WA ke versi terbaru memang sangat dibutuhkan pengguna, agar bisa memperoleh fitur terbaru dari WhatsApp.
Perlu diketahui bahwa WhatsApp secara berkala memberikan pembaruan penting yang sangat bermanfaat bagi pengguna.
Kini kalian bisa share screen dalam panggilan video. Jadi tidak hanya bisa menampilkan video dari kamera saja, namun apa yang ditampilkan di layar juga bisa dibagikan secara realtime.
Selain mendapatkan fitur baru, memperbarui WA juga penting untuk mengatasi aplikasi error. Biasanya aplikasi yang lama tidak diperbarui akan kadaluarsa.
Oleh sebab itu, pengguna perlu melakukan pembaruan ke versi terbaru secara berkala agar selalu up to date.
Tak usah khawatir, bagi kalian yang belum mengetahui cara memperbarui WA, silakan simak sampai tuntas!
Cara Memperbarui WA di HP Android
Bagi pengguna Android, setidaknya ada 3 cara memperbarui WA yang bisa digunakan, antara lain:
Melalui Google Play Store
Google Play Store merupakan salah satu tempat untuk memperbarui WA dengan mudah.
Cara memperbarui WA di sini cukup mudah, kalian hanya perlu membuka aplikasi tersebut dan pilih aplikasi yang ingin diperbarui (WhatsApp). Lalu langsung saja klik Perbarui. membuka aplikasi tersebut dan pilih aplikasi yang akan diperbarui.
Berikut ini cara memperbarui WhatsApp melalui Google Play Store:
Pertama, silahkan buka Google Play Store di HP Android.
Kemudian, buka menu dengan cara klik tiga garis pada pojok kiri atas.
Setelah menu terbuka, silahkan pilih Aplikasi & game saya.
Maka kalian akan melihat daftar aplikasi yang mendapat pembaruan. Silahkan klik Update atau Perbarui untuk memulai pembaruan dan tunggu proses selesai.
Jika pada daftar aplikasi tidak ada WhatsApp, berarti aplikasi yang kalian gunakan sudah dalam versi terbaru dan tidak memerlukan pembaruan.
Silakan ikuti langkah-langkah di atas dengan cermat agar kalian berhasil memperbarui WhatsApp dan mendapatkan fitur terbaru.
Website Resmi
Alternatif cara memperbarui WA bisa dilakukan melalui website resminya. Caranya juga cukup mudah, silakan download aplikasi terbaru lalu install seperti biasanya.
Kalian membutuhkan aplikasi web browser seperti Google Chrome, UC Browser, Mozilla, ataupun browser lainnya.
Berikut ini cara memperbarui WA yang sudah kadaluarsa:
Setelah itu, akan muncul versi WhatsApp terbaru, silahkan klik Download untuk memulai proses unduhan.
Silahkan tunggu sampai proses download selesai. Jika sudah, lakukan instalasi aplikasi tersebut.
Setelah instalasi selesai, maka WhatsApp akan otomatis terupdate.
Ketika proses instalasinya berhasil, maka kalian sudah mendapatkan pembaruan fitur dan masalah WhatsApp kadaluarsa telah teratasi. Nah, sekarang WhatsApp Anda sudah berhasil diperbarui.
Install Ulang
Bagi yang sudah lama tidak pernah memperbarui WhatsApp, mungkin akan mengalami masalah WhatsApp kadaluarsa atau aplikasi tidak berjalan dengan lancar.
Salah satu metode untuk mengatasinya adalah dengan cara memperbarui WA dengan install ulang.
Namun kelemahan cara ini adalah semua chat berpotensi hilang jika tidak dilakukan backup rutin sebelumnya.
Jika kalian sudah mencadangkan semua data penting di WhatsApp, silakan ikuti langkah-langkah berikut:
Pertama, silahkan masuk ke aplikasi Pengaturan di HP.
Setelah itu, buka pengaturan Aplikasi. Silahkan scroll ke bawah dan cari aplikasi WhatsApp. Setelah ketemu, silahkan pilih aplikasi tersebut lalu klik Hapus instalan.
Selanjutnya, silahkan install kembali aplikasi WhatsApp melalui Google Play atau bisa juga download aplikasinya di website resmi.
Jika sudah berhasil diinstall, maka WhatsApp sudah berhasil diperbarui.
Cara Memperbarui WhatsApp di iOS
Bagi pengguna iOS, kalian perlu memastikan untuk menggunakan WhatsApp versi terbaru agar mendapatkan fitur-fitur terkini dan perbaikan bug.
Bagi kalian yang menghidupkan Pembaruan otomatis di dalam WhatsApp secara default, mungkin tidak memerlukan cara ini.
Namun jika mematikan pembaruan otomatis di WhatsApp, maka kalian bisa secara manual memperbarui ke WhatsApp versi terbaru.
Selain itu, bagi pengguna baru WhatsApp, kalian juga harus memastikan bahwa saat mendaftarkan nomor telepon menggunakan WhatsApp versi terbaru. Jika tidak, mungkin proses pendaftarannya akan gagal.
Berikut ini cara memperbarui WA dengan mudah dari Apple App Store:
LABTekno.com – Cara mematikan Apple Vision Pro perlu diketahui setiap pengguna gadget super mahal ini.
Apple Vision Pro merupakan hardware dengan tingkat kerumitan yang luar biasa, layar ultra-premium yang dipasang di kepala dan memiliki performa powerful seperti MacBook.
Salah satu headset VR terbaik di dunia ini memang sangat canggih, kalian bisa melakukan banyak hal dengan lebih praktis.
Meskipun demikian, ada saatnya pengguna perlu mengetahui cara mematikan Apple Vision Pro. Sebab perangkat ini tidak memiliki tombol Shut Down atau Sleep, layaknya perangkat Apple lain seperti Mac, iPhone, iPad.
Bagi kalian memiliki Apple Watch, maka bisa menutup layar agar tertidur. Kalian juga perlu mengetahui layar Vision Pro mana yang harus ditutupi, layar 4K bagian dalam yang kalian lihat, atau layar EyeSight bagian luar?
Tidak perlu repot, sebenarnya itu bukan cara yang tepat untuk mematikan atau sleep headset VR satu ini.
Cara mematikan Apple Vision Pro sebenarnya sangat mudah. Pastikan cara yang kalian gunakan benar agar tidak menimbulkan masalah lain.
Cara Mematikan Apple Vision Pro
Setidaknya ada lima cara mematikan Apple Vision Pro yang dapat kalian coba dengan mudah.
Pertama, kalian bisa memanfaatkan fitur Siri milik Apple. Cukup ucapkan, “Siri, turn off my Apple Vision Pro” (Siri, matikan Apple Vision Pro saya) dan layar akan segera menjadi gelap.
Bisa juga menggunakan cara mematikan Apple Vision Pro lain, di antaranya:
Langkah 1: Vision Pro memiliki banyak kesamaan dengan perangkat Apple lainnya. Ia memiliki Digital Crown seperti Apple Watch.
Ketukan menunjukkan perpustakaan aplikasi Anda, namun jika Anda menekan dan menahannya, Anda akan melihat penggeser yang dapat ditarik untuk mematikan headset Anda.
Anda dapat menggunakan Digital Crown untuk mematikan Apple Vision Pro.
Langkah 2: Anda dapat menggunakan aplikasi Pengaturan untuk mematikan headset Anda.
Ketuk Digital Crown untuk menampilkan aplikasi Anda, lalu buka Pengaturan.
Di tab Umum, pilih Matikan. Sebuah penggeser akan muncul dan memindahkannya ke kanan akan mematikan Vision Pro Anda.
Ikon Pengaturan terlihat sama dengan Apple Vision Pro seperti di iPhone Anda.
Langkah 3: Jika Anda mengambil langkah yang benar, Anda boleh mematikan headset dengan melepaskan kabel daya.
Pertama, lepas Vision Pro Anda dan letakkan di atas meja atau meja. Headset mendeteksi bahwa Anda tidak lagi memakainya dan beralih ke mode tidur.
Tidak masalah jika kalian ingin mencabutnya setelah tertidur. Putar kabel daya berlawanan arah jarum jam dan kabel tersebut akan terlepas dari Vision Pro tanpa menggunakan tenaga apa pun.
Langkah 4: Cara mematikan Apple Vision Pro yang kelima adalah dengan membiarkannya dalam mode tidur.
Apple menunjukkan bahwa setelah 24 jam tidak aktif, Vision Pro akan mati secara otomatis untuk menghemat masa pakai baterai. Sebelum menggunakannya lagi, Anda harus mengaktifkannya kembali.
Cara Mengaktifkan Vision Pro
Setelah mengetahui cara mematikan Apple Vision Pro, kini kalian harus mengetahui cara mengaktifkannya kembali agar bisa menggunakannya.
Ada dua cara untuk menghidupkan headset VR terbaik ini. Jika tadi kalian mencabut baterai untuk mematikan Vision Pro, maka silakan sambungkan kembali.
Bisa juga dengan menukar baterai, jika memiliki Baterai Vision Pro lainnya. Headset akan menyala secara otomatis saat mendapat daya kembali.
Jika tadi menggunakan salah satu metode lain untuk mematikan Vision Pro, maka cukup tekan dan tahan tombol atas selama beberapa detik. Maka akan muncul logo Apple di tampilan depan saat dihidupkan.
Membiarkan Vision Pro tetap menyala, Apakah Aman?
Pengguna mungkin jarang perlu mematikan Vision Pro jika baterai tetap terisi sepanjang hari.
Saat istirahat, cukup lepas headset dan atur untuk mengaktifkan mode tidur hemat baterai.
Jika Vision Pro tetap berada dalam mode tidur selama lebih dari 24 jam, Vision Pro akan mati secara otomatis.
Daya tahan baterai merupakan masalah bagi semua headset VR yang berdiri sendiri, namun beberapa sudah memiliki solusinya.
Berbeda dengan Vision Pro dari Apple, Quest Pro dari Meta menyertakan dok pengisi daya yang nyaman dan Quest 3 yang berbiaya rendah memiliki baterai eksternal dan aksesori pengisi daya untuk memperpanjang waktu pengoperasian.
Hingga Apple atau produsen pihak ketiga merancang dok Vision Pro, Anda harus ingat untuk sering menyambungkannya.
Jika Anda terbiasa mengisi daya headset saat tingkat baterai turun di bawah 50%, Anda tidak perlu khawatir untuk menyalakan atau mematikannya, sehingga lebih mudah digunakan kapan saja.
Di sisi lain, mematikannya secara manual akan menghemat masa pakai baterai, jika pengisian daya tidak nyaman dan terutama apabila kalian tidak akan menggunakannya selama beberapa jam.
Demikian beberapa cara mematikan Apple Vision Pro dan cara menghidupkannya kembali. Bagi kalian yang belum mampu membelinya, mengetahui informasi ini mungkin bisa menjadi bekal bagi kalian yang nantinya berkesempatan menggunakannya.